Assalamu'alaikum ^^
berhubung aku (yang punya blog) bingung mau post apa, jadi aku nge-post ceritanya temen sekamar aku, namanya Nurul fauziah ramdani :))
nihh, baca aja yaa hahaahh cekidot
Karya : Nurul Fauziah Ramdani
Sebuah janji indah antara aku dan Tuhan yang selalu aku ingat. Namun butuh perjuangan dan pengorbanan untuk menepati sebuah janji. Sempat aku berpikir untuk melanggar janji itu namun aku segera tersadar bahwa janji itu harus aku tepati.
Namaku Aisyah. Saat ini aku masih duduk dibangku SMA. Aku cukup bangga sekolah disana, namun terkadang aku merasa tidak nyaman karena kelakuan teman-temanku yang tak sejalan denganku, tapi enjoy aja sih.. Disisi lainaku merasa bahagia karena mempunyai beberapa orang sahabat yang setia denganku. Tak henti aku bersyukur atas segala nikmat Tuhan yang diberikan padaku. Walau terkadang aku merasa berat beban yang aku pikul saat ini. Beban rasa yang terus menghantuiku. Ya.. itulah yang kurasakan saat ini, sama seperti remaja lainnya yang merasakan “jatuh cinta”. Namun bagaimanakah rasanya ketika cinta itu tak mendapat kepastian? Pasti sakit yang dirasa. Bagai perahu yang terhempas ke dasar samudra yang curam, gelap, sepi, hening dan menakutkan. Itulah rasanya broken heart. Yasudahlah, semua itu hanya masa lalu yang akan kubuang jauh-jauh. Aku ingin memusnahkan perasaan itu, dan membuka lembaran baru. Aku tak ingin menodai lagi kertas putih itu dan membuka hati untuk orang lain.
Malam telah larut, tak biasanya aku masih terjaga dari tidurku. Terkadang setiap malam aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Merasa sendiri tanpa ada seseorang yang hadir dalam hidupku. Hati ini terasa hampa semenjak ia memutuskan hubungan ini. Dulu aku memiliki kisah cinta, walau dia cinta pertamaku tapi kami menjalin hubungan cukup lama, 2 tahun aku bersamanya. Cukuplah aku merasakan cinta haram itu hanya satu kali. Tak ingin terulang kedua kalinya. Malam ini aku masih duduk didepan meja belajarku ditemani tumpukkan buku serta segelas susu hangat yang telah ku minum. Dikeheningan malam ini aku sengaja menulis sebuah perjanjian diatas kertas suci ini antara aku dan Tuhan untuk meyakinkan hatiku, yang isinya,
AKU JANJI ya ALLAH
Akan kusimpan CINTA ini, PERASAAN ini dan RINDU ini hanya untuk ENGKAU hingga aku menjadi kekasih HALAL seorang lelaki yang menyayangiku karena agamaku untuk membangun Istana Cinta dibawah lindungan-Mu.. Aamiin
Itulah sebait janjiku pada Tuhan. Karena aku yakin Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk hambanya. Tiba-tiba aku terlelap bersama bintang-bintang kala itu. Kini jam sudah menunjuk pukul 3 pagi dan jam beker disampingku berbunyi membangunkanku, aku segera bangun dan mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat Tahajjud.Selesai shalat aku bergegas membereskan meja belajarku dan bersiap untuk berangkat sekolah. Tak lama kemudian terdengar lantunan adzan subuh dengan indah sekali. Assolatukhairumminannaum. Shalat lebih baik daripada tidur. Kalimat itulah yang mendobrak hatiku untuk melaksanakan shalat subuh. Subhanallah indah sekali rasanya pagi ini, aku siap disambut mentari pagi. Tepat pukul 06.30 aku berangkat sekolah dengan berjalan kaki karena sekolahku tak jauh dari rumah. Cukup 15 menit berjalan aku sudah sampai didepan gerbang. Kuhentakkan kakiku menuju kelasku yang berjarak beberapa meter dari gerbang. Sesampai didepan kelas seperti biasa aku selalu disambut oleh sahabatku, Najwa.
“Assalamu’alaikum ukhty Aisyah...” sambut Najwa dengan senyuman manisnya, itulah panggilan yang selalu ia lontarkan padaku. Aku cukup senang dipanggil ukhty. “Wa’alaikumussalam ukhty Najwa, hmm, kayaknya ada yang lagi bahagia nih...” balasku dengan senyuman.
“Kok tau? Hayo kamu mata-matain aku ya?” ledek dia dengan penuh kecurigaan.
“Ngga atuh, aku kan punya indera keenam.hehe” candaku.
“Ndak percaya ah, Hmm, sebenernya siy iya.. aku lagi bahagia banget,”seyumannya mengembang.
“Tuh kan bener, kenapa ndak ngaku aja dari tadi..Hmmm” balasku agak jengkel.
“Hehe..sorry ya, kamu tau tidak kenapa hari ini aku seneng banget?”
“Kenapa?”
“Aku balikan lagi sama mantan pacarku,sebenarnya sampai sekarang aku masih memendam perasaan itu. Aku tak mampu menyimpan perasaan ini terus menerus. Menurutmu keputusanku menerima dia kembali bener atau ngga?”
“Menurutku keputusanmu salah,” jawabku sambil termenung dan sempat muncul sesosok bayangan dia dipikiranku.
“Apa alasannya?”
“Cinta adalah
